Arab Saudi Bantah Tuduhan Kolusi dengan Rusia Terkait Harga Minyak, Joe Biden Ngambek

- Penulis Berita

Kamis, 6 Oktober 2022 - 12:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Beritajabodetabek, Jakarta – OPEC+ menyetujui pengurangan produksi minyak yang tajam pada Rabu (5/10/2022), guna membatasi pasokan di pasar yang menyebabkan ketegangan politik dengan Barat usai Amerika Serikat menuduh hal itu adalah keputusan licik.

Pemimpin de facto OPEC Arab Saudi mengatakan pemotongan produksi 2 juta barel per hari (bph), atau sama dengan 2,0 persen dari pasokan global, diperlukan untuk menanggapi kenaikan suku bunga di Barat dan ekonomi global yang melemah.

Arab Saudi membantah tuduhan mereka berkolusi dengan Rusia, yang termasuk dalam kelompok OPEC+, untuk mendorong harga minyak lebih tinggi. Pihak kerajaan justru menyebut, Barat sering didorong “arogansi kekayaan” ketika mengkritik kelompok tersebut.

ADVERTISEMENT

ads

SCROLL TO RESUME CONTENT

Gedung Putih mengatakan Presiden Joe Biden akan terus menilai apakah akan merilis cadangan minyak strategis lebih lanjut untuk menurunkan harga.

“Presiden kecewa dengan keputusan picik OPEC+ untuk memangkas kuota produksi sementara ekonomi global menghadapi dampak negatif lanjutan dari invasi (Presiden Rusia Vladimir) Putin ke Ukraina,” kata Gedung Putih.

Biden menghadapi peringkat persetujuan yang rendah menjelang pemilihan paruh waktu karena inflasi yang melonjak dan telah meminta Arab Saudi, sekutu lama AS, untuk membantu menurunkan harga.

Para pejabat AS mengatakan sebagian alasan Washington menginginkan harga minyak yang lebih rendah adalah untuk menghilangkan pendapatan minyak Moskow.

Biden melakukan perjalanan ke Riyadh tahun ini tetapi gagal mendapatkan komitmen kerja sama yang kuat tentang energi. Hubungan semakin tegang karena Arab Saudi tidak mengutuk tindakan Moskow di Ukraina.

Pengurangan pasokan minyak yang diputuskan di Wina pada Rabu (5/10/2022) dapat memacu pemulihan harga minyak yang telah turun menjadi sekitar 90 dolar AS dari 120 dolar AS tiga bulan lalu di tengah kekhawatiran resesi ekonomi global, kenaikan suku bunga AS dan dolar yang lebih kuat.

Menteri Energi Saudi Abdulaziz bin Salman mengatakan OPEC+ perlu proaktif karena bank sentral di seluruh dunia bergerak untuk mengatasi inflasi yang melonjak dengan suku bunga yang lebih tinggi.

Pemotongan produksi Rabu (5/10/2022) sebesar 2 juta barel per hari didasarkan pada angka-angka dasar yang ada, yang berarti pemotongan tersebut tidak akan terlalu dalam karena produksi OPEC+ turun sekitar 3,6 juta barel per hari dari target produksinya pada Agustus.

Kurangnya produksi terjadi karena sanksi Barat terhadap negara-negara seperti Rusia, Venezuela dan Iran dan masalah produksi dengan produsen seperti Nigeria dan Angola. Pangeran Abdulaziz mengatakan pemotongan sebenarnya adalah 1,0-1,1 juta barel per hari.

Analis dari Jefferies mengatakan mereka memperkirakan angka tersebut sebesar 0,9 juta barel per hari, sementara Goldman Sachs memperkirakan angka tersebut pada 0,4-0,6 juta barel per hari dengan mengatakan pemotongan terutama akan datang dari produsen OPEC Teluk seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab dan Kuwait. Harga minyak acuan Brent naik di atas 93 dolar AS per barel pada Rabu (5/10/2022).

Barat telah menuduh Rusia mempersenjatai energi, dengan melonjaknya harga gas dan perebutan untuk menemukan alternatif menciptakan krisis di Eropa yang dapat memicu penjatahan gas dan listrik musim dingin ini.

Moskow, sementara itu, menuduh Barat mempersenjatai dolar dan sistem keuangan seperti mekanisme pembayaran internasional SWIFT sebagai pembalasan atas pengiriman pasukan Rusia ke Ukraina pada Februari.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak, yang dimasukkan AS ke dalam daftar sanksi khusus warga negara minggu lalu, juga melakukan perjalanan ke Wina untuk berpartisipasi dalam pertemuan.

Novak tidak berada di bawah sanksi Uni Eropa. Dia dan anggota OPEC+ lainnya sepakat untuk memperpanjang kesepakatan kerja sama dengan OPEC satu tahun lagi hingga akhir 2023.

Pertemuan OPEC+ berikutnya akan berlangsung pada 4 Desember. OPEC+ akan pindah ke pertemuan setiap enam bulan, bukan pertemuan bulanan.

Source : Suara.com

Berita Terkait

Integrasi JITEX 2026 dan Business Matching ke-32 Buka Peluang Pasar dan Kolaborasi Bisnis
Ingin Jadi Distributor Skincare? Kenali Peluang Kemitraan Herbala
Cyvernix Indonesia Luncurkan Cyvernix Pro AI Marketplace untuk Mempermudah Akses Teknologi AI
Deliwafa Perluas Ekspansi, Hadirkan One Stop Shopping Fashion di Panglima Polim Jakarta Selatan
clippervideo.id: Senjata Utama Brand dalam Pertempuran Digital
clippervideo.id: Pilihan Tepat untuk Bisnis yang Ingin Naik Level
Menggali Potensi Bisnis Lewat Visual Kreatif clippervideo.id
Bangun Citra Profesional di Media Sosial Bersama clippervideo.id

Berita Terkait

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIB

Polisi Buru Pelaku Kasus 2 Bocah di Jakbar Diculik dan Kalung Emas Perhiasan Dirampas

Rabu, 30 September 2026 - 11:23 WIB

Polda Banten Bongkar Praktik Penimbunan Solar Subsidi di Serang Modus Kencingan

Selasa, 29 September 2026 - 11:55 WIB

Satpol PP Razia Toko Kelontong di Terminal Cibinong, 1.482 Botol Miras Disita

Senin, 28 September 2026 - 11:43 WIB

Polisi Usut Kasus Viral Pria Diduga Transaksi Narkoba di Bogor yang Diamankan Warga

Kamis, 24 September 2026 - 11:48 WIB

Modus Tawaran Pekerjaan Subuh, Seorang Fotografer di Bogor Kena Tipu Daya Begal

Rabu, 23 September 2026 - 13:53 WIB

Kesaksian Korban Kebakaran di Kebayoran Lama, Api Membesar Saat Warga Beristirahat

Selasa, 22 September 2026 - 11:11 WIB

Polisi Selidiki Penyebab Puluhan Tank Kontainer Terbakar di NPCT1 Tanjung Priok

Jumat, 18 September 2026 - 16:19 WIB

Kapal Induk Giuseppe Garibaldi Resmi Tiba di Jakarta, Disambut Menhan Sjafrie

Berita Terbaru